Senin, 05 Oktober 2009

MAKNA SEBUAH KATA MAAF DALAM KESUCIAN BULAN SYAWAL



Syukur Alhamdulillah atas segala karunia Allah SWT atas segala petunjuk dan kesempatan kepada kita untuk selalu memperbaiki amalan diri dalam hidup di dunia ini. Sholawat dan salam semoga terhatur kepada khotamil anbiya’ Muhammad al mustofa yang telah menunjukkan kepada kita jalan yang lurus untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, tidak lain dan tidak bukan adalah agama Islam.

Selama sebulan kita melaksanakan ibadah puasa ramadhan. Kini kita berada di bulan syawal bulan peningkatan. Artinya, segala aspek kehidupan kita, idealnya menjadi meningkat lantaran latihan fisik dan mental secara ekstra keras selama ramadhan.

Dan sekarang kita telah merayakan hari kemenangan yaitu Idul Fitri, sebuah momen deklaratif atas keberhasilan kita dalam menjalankan ibadah puasa. Selain itu pula khasanah interaksi di masyarakat kita dipercantik lagi dengan adanya budaya saling memaafkan yang terbingkai dalam momen yang bernama Halal bihalal.

Kenapa datangnya Idul Fitri sangat berarti bagi kita? Karena Idul Fitri hanya merupakan hak dan proporsi bagi hamba-hamba yang kuat dan berintegritas tinggi dalam menjalankan segala perintah Allah dan konsisten dalam merebut pahala di sisi Allah yang disaranai dengan pelaksanaan ibadah puasa ramadhan.

Selama satu bulan lamanya umat islam diasah kepribadiannya melalui perintah berpuasa, dan tidak jarang dari umat islam yang hanya memperoleh kehausan, dahaga karena lapar berpuasa tapi kehilangan esensi-esensi dari ritus ibadah puasa secara hakiki. Apabila kita semua bisa membaca secara seksama, maka dalam momen merayakan Idul fitri dan Halal bihalal saat ini akan sangat terasa indah karena betapa runtut, dan terstruktur rapi Allah memberi pelajaran-pelajaran hidup melalui syariatnya untuk dipedomi yang selanjutnya diimplementasikan.

Hal yang demikian dapat kita telusuri dari ibadah puasa ramadhan dimana sarat terkandung hikmah yang sangat luar biasa bagi umat yang bisa mengertinya. Puasa ramadhan adalah sarana pembentukan integritas pribadi muslim, muslim yang jujur, bertoleransi tinggi, adil dan proporsional, bervisi ilahiyah tidak matrealistik, berdisiplin, mempunyai kepekaan sosial, etos kerja tinggi, produktif, dsb.

Berbeda dengan sifat ibadah yang ada, puasa adalah ibadah sirriyah (rahasia). Dikatakan sirriyah, karena yang mengetahui seseorang itu berpuasa atau tidak, hanyalah orang yang berpuasa itu sendiri dan Allah SWT.

Dalam ibadah puasa, kita dilatih dan dituntut untuk berlaku jujur. Kita dapat saja makan dan minum seenaknya di tempat sunyi yang tidak terlihat seorangpun. Namun kita tidak akan mau makan atau minum, karena kita sedang berpuasa. Padahal, tidak ada orang lain yang tahu apakah kita puasa atau tidak. Namun kita yakin, perbuatan kita itu dilihat Allah swt..

Orang yang sedang berpuasa juga dapat dengan leluasa berkumur sambil menahan setetes air segar ke dalam kerongkongan, tanpa sedikitpun diketahui orang lain. Perbuatan orang itu hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan. Hanya Allah dan diri si shaim itu saja yang benar-benar mengetahui kejujuran atau kecurangan dalam menjalankan ibadah puasa. Tetapi dengan ibadah puasa, kita tidak berani berbuat seperti itu, takut puasa batal.

Orang yang berpuasa dilatih untuk menyadari kehadiran Tuhan. Ia dilatih untuk menyadari bahwa segala aktifitasnya pasti diketahui dan diawasi oleh Allah SWT.Apabila kesadaran ketuhanan ini telah menjelma dalam diri seseorang melalui training dan didikan puasa, maka Insya Allah akan terbangun sifat kejujuran.Jika manusia jujur telah lahir, dan menempati setiap sektor dan instansi, lembaga bisnis atau lembaga apa saja, maka tidak adalagi korupsi, pungli, suap-menyuap dan penyimpangan-penyimpangan moral lainnya.

Kejujuran merupakan mozaik yang sangat mahal harganya. Bila pada diri seorang manusia telah melekat sifat kejujuran, maka semua pekerjaan dan kepercayaan yang diamanahkan kepadanya dapat di selesaikan dengan baik dan terhindar dari penyelewengan-penyelewengan. Kejujuran juga menjamin tegaknya keadilan dan kebenaran.

Evaluasi Pasca Puasa Ramadhan

Sebelum kita dengan gegap gempita merayakan hari kemenangan Idul Fitri tidak ada salahnya kita bersama-sama mencoba mengevaluasi proporsi kita masing-masing apakah kita termasuk orang-orang yang patut dan pantas untuk mendapatkan kemenangan “kembalinya kepada kesucian”? atau kita masih perlu banyak meningkatkan amal ibadah kita yang lebih baik di bulan peningkatan (syawal) ini.

Puasa adalah kawah condro dimuko bagi umat muslim sebagai character building. Dari pelaksanaan dan penghayatan ibadah puasa diharapkan terbentuk karakter muslim yang sehat (karena puasa itu menyehatkan), jujur, adil, berdisiplin, mempunyai kepekaan sosial, etos kerja tinggi, produktif, dsb.

Yang jelas, realitas menunjukkan, masih banyak orang yang berpuasa, kesehatannya justru semakin menurun. Pasca ramadhan ia selalu ke rumah sakit dan menghubungi dokter. Kejujuran mulai dikesampingkan, kolusi dan korupsi dipraktekkan, etos kerja melempem, produktifitas menurun, semangat mengamalkan ajaran agama menjadi luntur, pencerahan spritual dan intelektual menjadi gelap, jiwa kepekaan sosial menjadi pekak, bekerja tetap tidak disiplin, kurang menghargai waktu, dsb.

Jika demikian, benarlah apa yang pernah dituturkan oleh Nabi kita, “Betapa banyak orang puasa, tetapi tidak mendapatkan hikmah sedikitpun dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga saja. Dan betapa banyak orang yang shalat di malam hari, tetapi tidak mendapat apapun kecuali sekedar bangun malam” (HR. Ad-Darimi).

Apakah paska ramadhan kita tidak terjaga kesehatannya? Mungkin saat puasa ramadhan kita hanya menahan lapar dan haus dan saat berbuka kita melampiaskan dendam kesumat dengan makan dan minum bak orang kelaparan.

Apakah paska ramadhan kita masih menjadi orang yang sulit menempatkan kejujuran sebagai panglima dalam hidup?, barangkali selama menjalankan puasa kita tidak jujur pada diri kita sendiri dan Allah. Bahwa ibadah puasa kita hanya kamuflase social agar tidak terkucilkan dan tersingkirkan dari lingkungan kita, padahal di lain pihak kita melakukan aktifitas-aktifitas yang membatalkann puasa apakah mojok makan di warung, atau perbuatan lain yang membatalkan puasa kita.

Apakah paska ramadhan kita masih menjadi orang yang egois dan individualis?, mungkin Kalau pasca ramadhan, kita masih egois atau individualistis, tak tergugah melihat kemiskinan finansial dan intelektual, tak tersentuh melihat penderitaan saudara-saudara kita, sehingga solidaritas sosial menurun, barangkali, selama ramadhan, kita tidak melaksanakan titah Rasul untuk memperbanyak sedekah dan infaq , zakat fitrah di bulan ramadhan, sehingga latihan bersifat pemurah tidak terlaksana. Akibatnya, sifat egois dan individualistis masih bermayam dalam diri orang yang berpuasa formalistis itu.

Apakah paska ramadhan kita masih mlempem tidak beretos kerja dan berdisiplin tinggi?. Kalau demikian maka kita belum bisa menyentuh esensi dari ibadah puasa namun kita masih terjebak pada ritus formal belaka. Wal hasil satu bulan berlalu efektifitas ibadah puasa kita masih sangat jauh dari yang semestinya.

Oleh karena ramadhan sudah pergi yang mudah-mudahan untuk kembali, sehingga apabila Allah masih memberi umur maka kita bersama-sama akan mencoba memperbaiki segala kekurangan kita pada tahun ini.

Merayakan Idul Fitri & Halal bihalal

Setelah kita mengevaluasi kualitas ibadah kita selama ramadhan sampai saatnya kita bersama menyambut dan merayakan momen kemenangan dalam Idul Fitri. Idul Fitri memiliki arti kembali kepada kesucian, atau kembali ke asal kejadian. Idul Fitri diambil dari bahasa Arab, yaitu fithrah, berarti suci. Kelahiran seorang manusia, dalam kaca Islam, tidak dibebani dosa apapun. Kelahiran seorang anak, masih dalam pandangan Islam, diibaratkan secarik kertas putih. Kelak, orang tuanyalah yang akan mengarahkan kertas putih itu membentuk dirinya. Dan dalam kenyataannya, perjalanan hidup manusia senantiasa tidak bisa luput dari dosa. Karena itu, perlu upaya mengembalikan kembali pada kondisi sebagaimana asalnya. Itulah makna Idul Fitri. Karena itu, perlu upaya mengembalikan kembali pada kondisi sebagaimana asalnya. Itulah makna Idul Fitri. Dosa yang paling sering dilakukan manusia adalah kesalahan terhadap sesamanya. Seorang manusia dapat memiliki rasa permusuhan, pertikaian, dan saling menyakiti. Idul Fitri merupakan momen penting untuk saling memaafkan, baik secara individu maupun kelompok.

Budaya saling memaafkan ini lebih populer disebut halal-bihalal. Fenomena ini adalah fenomena yang terjadi di Tanah Air, dan telah menjadi tradisi di negara-negara rumpun Melayu. Ini adalah refleksi ajaran Islam yang menekankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling memberi kasih sayang.

Dalam pengertian yang lebih luas, halal-bihalal adalah acara maaf-memaafkan pada hari Lebaran. Keberadaan Lebaran adalah suatu pesta kemenangan umat Islam yang selama bulan Ramadhan telah berhasil melawan berbagai nafsu hewani. Dalam konteks sempit, pesta kemenangan Lebaran ini diperuntukkan bagi umat Islam yang telah berpuasa, dan mereka yang dengan dilandasi iman.

Menurut Dr. Qurais Shihab, beliau memberi wawasan mengenai Idul Fitri adalah kembalinya manusia ke dalam keadaan suci. Yaitu keadaan suci yang bersih, indah, dan benar. Bahwa arti kesucian manusia di hari Idul Fitri adalah kesucian yang mengandung tiga makna tersebut.

Indah, umat muslim dalam merayakan idul fitri dilaksanakan dengan penuh keindahan mulai dari baju yang baru, dekorasi rumah ditata demikian rupa untuk siap menerima tamu, masjid-masjid kelihatan cantik, rapi dan bersih, senyuman indah yang selalu menjadi symbol silaturahmi dan komunikasi. Bersih, bahwa manusia telah terbebas dari dosa-dosa kepada Allah dengan melaksanakan puasa ramadhan dengan sepenuh hati. Kebersihan hati dan diri dari dosa kepada Allah diimbangi lagi dengan peleburah dosa dan khilaf kepada sesama manusia melalui momen Halal bihalal sebagai perwujudan kesalehan hablun minallah dan hablun minannas. Benar, dalam menjalankan ibadah agama dilaksanakan sesuai syariat Allah tidak melenceng dari akar agama bahkan kesyirikan. Perayaan Idul Fitri dan ekspresi kemenangan yang sesuai ajaran agama meskipun dalam ajaran awal Islam tidak ada, akan tetapi tetap tidak menyalahi aturan yang ada. Sebagaimana budaya Halal bihalal dan syawalan yang merupakan entitas budaya Indonesia yang pada saat Nabi Muhammad tidak ada, karena esensinya adalah menegakkan perintah Allah sebagaimana firman-Nya dalam al Qur’an surat (Ali 'Imron: 134-135) “diperintahkan, bagi seorang Muslim yang bertakwa bila melakukan kesalahan, paling tidak harus menyadari perbuatannya lalu memohon ampun atas kesalahannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, mampu menahan amarah dan memaafkan dan berbuat kebajikan terhadap orang lain.

Dengan pemahaman dan pengertian-pengertian sebagaimana tersebut, maka mudah-mudahan kita semua bisa merayakan hari Idul Fitri dengan penuh kemanfaatan sesuai esensi dari ajaran dan perintah Allah SWT. Dan kebiasaan saling memafkan tentunya tidak hanya kita jadikan simpul silaturahmi saat lebaran dan syawalan saja akan tetapi menjadi etika hidup yang senantiasa menghiasi pola perilaku social kemasyarakatan kita. Semoga kita semua menjadi hamba-hamba yang dapat menuai hikmah dari segala amal ibadah kita, menjadi muslim yang berintegritas, jujur, adil, tepo seliro dan toleran, berdisiplin, beretos kerja tinggi, dan peka terhadap lingkungan kita. Sehingga kenikmatan hari kemenangan dalam Idul Fitri akan menjadi sempurna dan terasa begitu membahagiakan.

Demikian sedikit uraian yang mudah-mudahan dapat menjadi manfaat khususnya bagi saya pribadi dan mudahan-mudahan membawa manfaat bagi kita semua. Ada benarnya semata-mata hanya dari Allah adanya salah dan kehilafan semata-mata karena ketidaksempurnaan saya sebagai manusia biasa. Terima kasih atas segala perhatian dan mohon maaf atas segala kehilafan. Billahittaufiq wal hidayah.

Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar